Resensi Novel Terbaru: Novel Romance Dua Keping Cinta Karya Madun Anwar

 Resensi Novel Terbaru: Novel Romance Dua Keping Cinta Karya Madun Anwar

Resensi novel terbaru kali ini akan membahas novel Dua Keping Cinta, novel romance karya Madun Anwar. Novel yang diterbitkan oleh mediakita (cetakan pertama pada 2014) mengisahkan cinta pertama Lestari, siswi kelas XI IPA 2 SMA 2 Mekarsari. Tapi cinta pertama yang bukan sekadar cinta pertama. Ketika hati Lestari mestinya berbunga-bunga, ia justru melewati hari-hari dengan suram. Di usia remaja, Lestari harus mengenal betapa hidup begitu keras, dan penuh misteri.

Data Novel Dua Keping Cinta
Judul        : Dua Keping Cinta ~mengalah demi cinta yang lain~
Penulis    :  Madun Anwar
Peyunting:  Dian Nitami
Proofreader: Irwan Rouf
Desain Visual: Imam Himawan
Penerbit: mediakita
Terbit    : 2014 (Cetakan I)

Blurb Novel Dua Keping Cinta

Pertemuan di kantin itu bertanda baik. Lestari dan Raihan akhirnya dekat.

Mereka kerap berkomunikasi lewat pesan singkat. Dan, pada akhirnya Lestari diajak makan malam oleh raihan. Yang menyebabkan perasaannya dag dig dug tidak dimengerti, Lestari bertambah berdegup. Lestari bingung, hal apa yang dirasakannya? Setelah mendengar petuah dan keterangan Dila tentang kondisinya, akhirnya Lestari tahu kalau ia suka dengan Raihan.

Bagaimanakah kelanjutan kisah cinta mereka?

Review Novel Dua Keping Cinta
Novel remaja yang isinya ceria, dengan tingkah konyol tokoh utamanya, atau alur yang mengocok perut, cukup sering dijumpai. Biasanya, novel demikian memang cocok untuk dibaca para remaja atau orang-orang yang ingin bernostalgia dengan masa muda. Namun, Dua Keping Cinta bukanlah novel seperti itu. Guyonan atau keceriaan memang bertebaran di berbagai bagian novel ini. Tetapi, kesan 'gelap', terutama di bab-bab terakhir, terlihat lebih kental.

Lestari, siswi kelas XI IPA 2 SMA 2 Mekarsari, bertemu dengan Raihan melalui peristiwa serba kebetulan. Lestari mendapat PR membuat puisi. Karena tidak bisa membuatnya, Lestari mengambil jalan pintas, menyalin sebuah puisi dari buku kumpulan puisi di perpustakaan (halaman 3). Meskipun sejak awal berniat menyalin puisi, Lestari lupa tidak membawa pulpen. Lestari berharap Dila, sahabatnya, datang. Tetapi ternyata Dila tidak kunjung muncul. Terpaksa Lestari meminjam pulpen pada 'murid cowok di sebelahnya' yang bermata sipit dan berkacamata (halaman 4). Dialah Raihan, siswa kelas XII yang tidak dikenalnya. Mudah ditebak, meski dibumbui penyangkalan ini dan itu, Lestari suka pada Raihan.

Jika pembaca bertanya-tanya, bagaimana mungkin Lestari yang dua tahun bersekolah di SMA yang sama dengan Raihan, tidak mengenal cowok tersebut, ada jawabannya. Dikatakan oleh Dila, "dia memang tidak suka bergaul. Anaknya lebih [sic!] tertutup. Kata Tanteku, dia juga pendiam" (halaman 7).Dila juga berkata, "Sekolahan kita kan luas. Mana mungkin kita tahu. Kita kurang memerhatikan juga kan?" (halaman 15).

Pertemuan berikutnya antara Lestari dan Raihan, kembali kebetulan. Lestari membantu sang ibu berjualan kue, dan ... pemesan kue hari itu adalah ibu Raihan. Bisa ditebak, Raihanlah yang membuka pintu ketika Lestari tiba di rumahnya.

Ketika Lestari keluar dari laboratorium praktik biologi, untuk ketiga kalinya ia bertemu Raihan. Lagi-lagi tidak sengaja. Jam praktik biologi sudah selesai. Sementara Raihan, izin keluar kelas untuk ke WC. Kebetulan, WC sekolah ada di belakang laboratorium (halaman 14).

Serangkaian kebetulan ini membuat saya mengenang masa lalu di SMA. Iya, kadang ketika menyukai seseorang, tiba-tiba saja kita seperti begitu sering 'dipertemukan'. Mungkin karena sebelumnya, sebenarnya kita sudah sering 'ada dalam ruang yang dekat dengan ' orang yang disukai, tetapi tidak cukup memerhatikan. Ah, abaikan kenangan ini. Yang jelas, rangkaian kebetulan ini punya justifikasi dalam hidup saya :D.

Pada titik Lestari semakin sering bertemu dengan Raihan, saya sempat berpikir ... hmm, apakah ceritanya hanya akan sebatas ini saja? Saya sudah cukup sering yang membaca novel seperti ini. Mungkin dengan gaya penceritaan yang berwarna-warni, tetapi ujungnya sudah bisa diterawang. Tetapi segalanya berubah, setelah tokoh-tokoh lain diperkenalkan. Tokoh-tokoh dewasa yang melingkari hidup Lestari dan Raihan, orangtua mereka.

Pada akhirnya, Lestari dan Raihan harus memilih. Ibu Lestari dan ayah Raihan (Om Darma) sudah beberapa lama menjalin hubungan; dan bakal melangkah ke jenjang serius. Bagaimana Lestari bisa tidak tahu bahwa Raihan adalah putra Om Darma, sosok yang akan menjadi ayahnya, memang sedikit membuat kening saya berkerut. Tetapi mungkin saja terjadi. Om Darma jarang di rumah, sering keluar kota untuk urusan pekerjaan. Om Darma pulang bertemu Raihan dua minggu sekali (halaman 53).

Kisah Lestari-Raihan yang saling jatuh cinta, begitu pula ayah-ibu mereka, mengingatkan saya pada beberapa FTV. Tetapi endingnya berbeda. Di usia muda, ketika hasrat mereka bergejolak, Lestari dan Raihan mengambil keputusan yang sangat dewasa, menghapus cinta yang belum sepenuhnya mekar. Mereka 'mengalah', lebih suka berbakti kepada orang tua.
Kebahagiaan adalah hal sederhana yang perlu dicapai. Orang yang memberikan kebahagiaan pada orang lain adalah pahlawan yang berpahala (halaman 133).
Secara keseluruhan, susunan kalimat dan pilihan kata di novel Dua Keping Cinta ini 'cukup sederhana'. Mungkin akan lebih manis lagi jika Madun Anwar sang penulis, mengolahnya agar lebih 'hidup' sehingga kesan 'sederhana', 'terbatas', atau 'cenderung kaku' lenyap.

Tetapi, adanya latar belakang perceraian dalam keluarga, datangnya ayah-ibu baru, dan cara Lestari serta Raihan menjalani 'cinta pertama' mereka, membuat novel ini 'bukan novel remaja biasa'. Cukup menarik untuk bahan bacaan akhir pekan.

Resensi Lain:
Cahaya dari Koto Gadang karya Haidar Musyafa
Muse karya Devania Annesya
Jilbab (Love) Story karya Redi Kuswanto

1 Response to "Resensi Novel Terbaru: Novel Romance Dua Keping Cinta Karya Madun Anwar "

  1. terima kasih reviewnya, mas. aku suka. detail sekali. hihi... maklumi, ya, masih belajar. itu banyak typonya juga.

    BalasHapus