Resensi Buku Terbaru: Berislam dengan Senyum Karya Ali Abdullah

 Resensi Buku Terbaru: Berislam dengan Senyum Karya Ali Abdullah

Resensi buku terbaru kali ini akan membahas buku Berislam dengan Senyum karya Ali Abdullah. Buku yang diterbitkan oleh Quanta (cetakan pertama pada Januari 2014) menampilkan kisah-kisah islami yang lucu dan segar dari tokoh Muhammad Ngajiyo. 

Data Buku Berislam dengan Senyum
Judul: Berislam dengan Senyum
Penulis  : Ali Abdullah
Penerbit : Quanta
Terbit  : 2014 (Cetakan I)

Blurb Buku Berislam dengan Senyum
Adalah Muhammad Ngajiyo, seorang santri dari sebuah pondok pesantren yang menjalani kehidupan di kota sebagai mahasiswa dan di desa sebagai pemuda biasa. Di kota, dia bertemu berbagai kalangan dalam dunia intelektual yang memaksanya berpikir kritis tentang Islam, tetapi tetap santun. Sementara itu, di desa, dia bertemu kearifan dan keawaman masyarakatnya tentang Islam yang memaksanya menempuh jalur dakwah, tetapi tetap santun.

Meskipun dia tetap santun di kota dan di desa, tapi sesungguhnya dia adalah orang yang cerdik dan konyol. Bagaimana kisah Ngajiyo dalam mengamalkan keilmuan yang didapatkannya dari pesantren? Bagaimana kecerdikan dan kekonyolannya ketika menghadapi orang-orang kota yang bergelut dengan dunia intelektual? Bagaimana kecerdikan dan kekonyolannya ketika menghadapi orang-orang desa yang arif tetapi awam? Silakan menyimak ulasan-ulasan di dalam buku ini dan ambil hikmahnya! Paling tidak, Anda akan tersenyum

Review Buku Berislam dengan Senyum

Pada masa lalu, literatur Islam (Timur Tengah) mengenal kisah Nasrudin Hoja, seorang pria konyol yang kadang membuat seisi dunia tertawa, sekaligus membawa kita menertawai isi dunia. Dalam satu guyonan Nasrudin, seperti terdapat beberapa lapis pemahaman. Dan uniknya, mereka yang tertawa oleh guyonan itu, punya tingkatan 'kadar' tertawa, berdasarkan ada di lapis pemahaman yang manakah dirinya.

Tokoh Muhammad Ngajiyo dalam buku Berislam dalam Senyum, mengingatkan saya pada sosok Nasrudin Hoja tersebut. Mirip dengan Nasrudin, Ngajiyo 'menghadapi' lingkungan Islam yang mengelilinginya, dengan guyon segar yang menggelitik. Misalnya, Ngajiyo mengistilahkan WIB bukan Waktu Indonesia Barat, tetapi Waktu Insya Allah Berubah, untuk menyindir kebiasaan malas di pondok pesantrennya (halaman 22-24).

Meskipun demikian, ada dualitas yang cukup 'mengganggu' bagi saya dalam buku ini. Karena, Ngajiyo yang tradisional, pintar, toleran, sekaligus konyol ini, dipertentangkan dengan 'kelompok' Abu Azam, yaitu orang-orang yang cenderung 'puritan', non tradisional, kurang pintar, dan tidak toleran. Akibat dari dualitas yang terlalu murni ini, kesan yang timbul adalah, kubu Ngajiyo, santri pesantren yang cenderung kerap (kalau tidak bisa dikatakan selalu) benar, yang bertentangan dengan 'kelompok' Abu Azam, santri google (demikian saya menyebut) yang cenderung kerap (kalau tidak bisa disebut selalu) salah. Jadilah kebenaran dan kesalahan, tetap saja hitam dan putih, bukan 'abu-abu'.

Sebagai contoh, ketika ayah Adin meninggal, sementara Adin dikenal sebagai 'pemuda yang sering berdakwah', tetapi 'membidah-bidahkan' (halaman 77). Adin, representasi santri google, tidak bisa salat jenazah, dan malah mengerjakannya dengan rukuk dan sujud. Hal ini di-skakmat Ngajiyo, dengan menyebut, Adinlah pelaku bidah. Namun apakah 'santri google', untuk membandingkannya dengan santri tradisional seperti Ngajiyo, memang tidak bisa salat jenazah? Di sini, perbedaan santri google 'bodoh, tak tahu agama, cuma bisa omong doang' vs santri tradisional 'pintar, paham agama, dan tidak banyak omong', dibuat terlalu ekstrem (yah, memang demikian bukan, yang biasa terjadi dalam kisah-kisah lucu seperti ini?)

Ada juga ketika Fauzan dan Lucky mengkritik nama Ngajiyo yang kesannya kampungan, lucu, dan aneh (halaman 2). Ngajiyo membalas dengan menyebut, nama Fauzan  (Arab) dan Lucky (Inggris) bukan merupakan 'produk lokal', alias impor. Setelah Fauzan dan Lucky mengejek agar Ngajiyo mengganti namanya, Ngajiyo membalas, lebih baik kedua temannya itu yang berganti nama, misal Bejo dan Untung agar lebih 'bercita rasa lokal'.
Balasan 'kebenaran mutlak' versi Fauzan dan Lucky tentang nama tradisional Ngajiyo, adalah 'kebenaran mutlak' lain versi Ngajiyo 'kalau nama saja impor, bagaimana bisa menghargai produk lokal?' (halaman 3). Lalu, apakah benar nama 'impor' akan membuat seseorang tidak menghargai produk lokal? Ataukah argumen ini hanya sebatas untuk membuat perdebatan tradisional vs modern ini, dimenangkan yang tradisional?
Di samping itu, apakah kata 'ngajiyo' (ngaji + yo, mari mengaji) adalah sepenuhnya produk lokal, ataukah di dalam kata tersebut terdapat unsur keterpengaruhan dari kata 'aji' dalam bahasa Sansekerta (India) juga menarik untuk digali.

Pada bagian lain, Ngajiyo dengan semangatnya yang tinggi, kerap berhasil melakukan skak mat terhadap 'lawan-lawannya', para kaum puritan, atau 'santri google'. Meskipun demikian, tidak selamanya skak mat tersebut berterima. Sebagai contoh, tentang bagian 'Mendoakan Orang Yang Meninggal'. Dikisahkan, Adin menyebut tahlilan sebagai bidah. karena menurut keyakinannya 'doa yang sampai kepada orang yang sudah meninggal itu hanya dari anak-anaknya yang saleh dan salehah' (halaman 65). Untuk membalikkan konsep ini, Ngajiyo kemudian mendoakan ayah Adin agar masuk neraka (halaman 66). Ketika ditanya alasannya, Ngajiyo menyebu, "tempo hari kamu bilang kalau doa untuk orang yang sudah meninggal itu tidak sampai ... Makanya doa saya tadi tidak akan sampai. Santai saja!" (halaman 66).
Adin dikisahkan tergagap oleh hal tersebut. Namun, dalam hal ini, kemenangan Ngajiyo terhadap Adin, terjadi karena Adin memakai perasaan, serangan itu menyentuh level personalnya. Padahal,  jika sudah menyangkut keyakinan seperti ini, Adin bisa saja bersikap cuek, tidak tergagap dan tidak khawatir ayahnya akan masuk neraka karena doa Ngajiyo.  Tidak semua orang bakal panik oleh sikap Ngajiyo yang seperti itu.

Formula yang sama diulang dalam kisah  jilbaber bicara poligami (halaman 57). Maryam saat masih menjadi mahasiswi, getol menggembar-gemborkan hak lelaki melakukan poligami. Namun, setelah menikah, ia berkata jika suaminya menikah lagi, "bisa kutendang dia, kalau berani poligami" (halaman 59). Maryam di sini sudah mencampurkan perasaannya dengan keyakinan, lantas memenangkan perasaan tersebut. Tapi, dalam kehidupan yang asli, tentu tidak cuma ada sosok Maryam seperti ini. Mungkin saja ada 'Maryam kuadrat', yang mempertahankan keyakinan tentang poligami tersebut, dan malah membujuki sang suami agar menikah lagi. Selalu ada perkecualian, tidak mungkin hitam dan putih terlihat sejelas kisah Maryam dan Ngajiyo ini.

Berikutnya, ketika seseorang mengupas maksud sebuah guyonan dalam penjabaran yang lebih rinci, ada kecenderungan harapan dari pembaca, ia benar-benar 'arif'. Maksudnya, benar-benar bijaksana. Sebagai contoh dalam bagian Jumlah Rakaat Salat Tarawih (halaman 120), penulis mengutip riwayat bahwa Rasulullah saw. saat Ramadan, salat sunah hingga kaki beliau bengkak. Kesimpulannya, kaki bengkak itu lebih dari 20 rakaat. 'Salat 20 rakaat saja tidak membuat kaki kita bengkak, apalagi cuma delapan rakaat'. Andai keterangan penulis dihentikan sebelum kalimat terakhir, mungkin pendapatnya tidak akan dianggap memihak oleh sebagian kalangan. Namun, tentu hak penulis untuk memihak sesuatu yang diyakininya benar, sesuai dengan rangkaian logika yang disusun (kaki rasulullah bengkak karena banyak salat, tak mungkin itu terjadi karena jumlah rakaat yang sedikit). Di sisi lain, untuk kalangan tertentu, akan muncul pertanyaan dari susunan logika seperti ini, yaitu apakah kaki Rasulullah bengkak karena jumlah rakaat salat malam yang banyak, atau salat malam yang dilakukan setiap hari, atau kedua-duanya.

Overall, guyonan renyah Muhammad Ngajiyo di buku ini dapat menyegarkan sekaligus mencerahkan pembaca, yang ingin 'mendalami Islam' tidak melulu dari hal-hal yang serba serius. Banyak ilmu yang dapat diambil dari serangkaian kisah Ngajiyo di buku ini, terutama Islam yang (pada tataran tertentu) dicitrakan lebih toleran, sabar 'menahan kebenarannya sendiri' tanpa perlu 'mencela kebenaran orang lain' yang bisa saja salah.


Resensi Lain (Novel):
Cahaya dari Koto Gadang (Novel Biografi Haji Agus Salim) Karya Haidar Musyafa
Muse karya Devania Annesya
Jilbab (Love) Story karya Redi Kuswanto

0 Response to "Resensi Buku Terbaru: Berislam dengan Senyum Karya Ali Abdullah"

Posting Komentar