Resensi Novel Terbaru: Muse Karya Devania Annesya

 Resensi Novel Terbaru: Muse Karya Devania Annesya

Resensi novel terbaru kali ini akan membahas novel Muse karya Devania Annesya yang diterbitkan pertama kali oleh Grasindo pada 2014. Novel ini mengisahkan sosok Renatha, seorang pramugari pesawat yang jatuh cinta dengan Jonas, suami sahabatnya sendiri.

Data Novel Muse
Judul       : Muse
Penulis    : Devania Annesya
Editor    : Anin Patrajuangga
Desain Sampul & Ilustrasi: Dyndha Hanjani P.
Penerbit  : Grasindo
Terbit      : 2014
Halaman : 200 halaman
ISBN      : 978602251747

Blurb Novel Muse
Aku sahabat dari istrimu, tempat kau biasa mendiskusikan segala hal. Aku sahabat dari istrimu, tempat di mana kau selalu meminta nasihat dalam menghadapi kegilaan istrimu. Aku sahabat dari istrimu, dan aku cinta padamu.

Jatuh cinta pada Jonas adalah apa yangtidak pernah Renatha rencanakan. Namun begitulah adanya, ia jatuh cinta pada Jonas, suami dari Nadia-sahabatnya. Mulanya itu hanya sebuah rasa tanpa perlu mendapat pengakuan. Mulanya...

"Mau sampai kapan kamu lari, hm?"

"Kenapa tidak? Kalau perlu aku lari lagi sekarang. Aku akan pergi ke tempat di mana aku tidak akan menemukan satu orang pun yang mengetahui masa laluku. Terutama kamu! Adalah sebuah kesalahan memercayaimu malam itu!"

Review Novel Muse:
Novel ini dibuka dengan surat cinta Renatha kepada Jonas, suami sahabatnya, Nadia. Sebuah surat cinta yang manis, sangat kontras dengan watak Renatha yang sejatinya anti cinta dan hidup di dunia yang penuh 'suka ria'. Sejak awal pembaca diajak untuk menebak, seperti apa ending dari kisah cinta terlarang ini. Bahkan saya sempat berasumsi, jangan-jangan ini (awal) kisah perselingkuhan Renatha dan Jonas? Jawabannya ternyata 'lebih dari itu' sekaligus 'kurang dari itu'.

Renatha dan Nadia adalah partner in crime, sahabat sejati yang terbentuk sejak masa SMA. Renatha yang cantik luar biasa dan independen, menjadi acuan Nadia di kemudian hari. Keduanya lantas bekerja sebagai pramugari pesawat, menikmati hidup yang 'liar', kencan semalam dengan pilot atau penumpang yang jatuh ke pelukan mereka.

Pernikahan Nadia dengan Jonas mengubah keliaran itu. Awalnya Nadia menilai Jonas, sang penulis buku, sebagai sosok sempurna. Namun belakangan penilaian itu berubah. Jonas adalah tipe pria lurus, yang bertentangan sifatnya dengan Nadia. Ditambah dengan lahirnya Raisa, anak mereka berdua, rumah tangga pasangan ini semakin membara.

Renatha, yang awalnya tak mau terikat, terpesona dengan Jonas, dan dalam hitungan waktu berubah mencintainya. Renatha melakukan segala cara untuk mendapatkan Jonas, termasuk menggunakan Raisa, 'kartu mati' Jonas, sekaligus anak yang tidak mendapatkan cinta dari ibunya sendiri, Nadia. Hal yang kemudian menyeret kisah ini seperti semacam 'kereta api dengan kecepatan tinggi'. Dipadu dengan kepiawaian penulis membentuk kalimat-kalimat padat dan memutar balik alur (dengan panduan judul bab yang sangat membantu pembaca awam), sulit untuk berhenti membaca novel ini di tengah jalan.

Meskipun demikian, saya sempat kurang sreg dengan bagian pembuka novel ini, surat Renatha yang menurut saya (baik sebelum tahu sifat asli Renatha maupun setelahnya), terlalu 'manis'. Ada metafora yang mengganggu, seperti 'urat nadi yang menggelembung sebesar balon dan hendak meletus' (halaman 2), dan 'detik waktu layaknya butir jarum yang merajam ulu hati' (halaman 4). Hal seperti ini, menurut saya (dengan segala keterbatasan saya), mustahil. Butir jarum? Apakah itu? Butiran jarum yang sudah berserak hancur-lebur? Atau butiran pentul jarum? Apakah ia bisa merajam?

Terkait dengan ending, memang tidak bisa ditebak. Meskipun demikian, ending ini cenderung 'di luar bayangan'. Setelah bertengkar hebat dan saling membenci, hingga bercerai, Jonas dan Nadia bisa meredakan dendam masing-masing. Nadia juga bisa 'memaafkan' kelahiran Raisa. Sebuah happy ending yang terlalu manis (bagi saya, yang berharap lebih :P).

Sementara itu, Renatha akhirnya memilih Davi, sosok yang pernah sangat diremehkannya saat pertama kali bersua, kala Renatha yang cuma mengenakan lingerie.

Tapi di sisi lain, munculnya Davi sebagai 'tokoh yang menyelesaikan masalah jatuh cinta Renatha', sangat logis. Davi punya latar belakang mirip Renatha, mudah menaklukkan para wanita, sebelum akhirnya menyerah pada Renatha. Selain itu, Davi adalah satu-satunya tokoh lain yang berhubungan dengan Renatha sebelum bersembunyi ke Papua. Persuaan kedua Davi dan Renatha pun terjadi setelah sekian kisah yang mendewasakan keduanya. Ada istilah, bertemu orang tepat di saat yang tepat, bukan?

Satu yang agak menarik, tetapi mungkin karena pembacaan saya yang 'terlalu cepat', di novel ini tampaknya ada dua tokoh bernama Johan. Yang pertama, Johan yang pernah jadi pacar Renatha (halaman 8) dan yang kedua, Johan yang menjadi pacar Nadia pasca ia bercerai dengan Jonas (halaman 182). Apakah keduanya orang yang sama? Saya harap, dalam pembacaan berikutnya yang lebih detail, ada jawaban: tidak.

Yang 'mengecewakan', adalah, tidak adanya penjelasan detail tentang pekerjaan Jonas sebagai penulis (kecuali dikejar deadline dan masuk kantor hingga sore), juga kehidupan Renatha dan Nadia sebagai pramugari pesawat, kecuali saat berkenalan dengan Jonas, dan beberapa adegan lain serba sekilas. Namun, ada pembenaran, mengingat novel ini bergenre adult pop yang ringan, tema utama novel yang menekankan hanya pada masalah 'cinta' Renatha, Nadia, dan Jonas, cukup pas.

Overall, novel Muse ini memiliki syarat yang penting bagi pembaca seperti saya: bahwa hidup tidak sekadar hitam dan putih. Renatha yang hidupnya liar dan bebas, apakah ia sepenuhnya salah ketika jatuh cinta kepada suami sahabatnya sendiri? Nadia yang terbiasa 'terbang kesana kemari', apakah ia salah ketika tidak bersyukur memiliki suami seluarbiasa Jonas?

Resensi Lain: Jilbab (Love) Story karya Redi Kuswanto

0 Response to "Resensi Novel Terbaru: Muse Karya Devania Annesya"

Posting Komentar