Resensi novel terbaru kali ini akan membahas novel Cahaya dari Koto Gadang , novel Biografi Haji Agus Salim karya Haidar Musyafa. Novel yang diterbitkan oleh Spirit & Grow (cetakan pertama pada April 2015) mengisahkan perjalanan hidup salah satu tokoh terbesar dalam sejarah Indonesia ini.
Data Novel Cahaya dari Koto Gadang
Judul : Cahaya dari Koto Gadang Novel Biografi Haji Agus Salim (1884-1954)
Penulis : Haidar Musyafa
Peyunting: Spirit & Grow
Desain Visual: djanoerkoening
Penerbit: Spirit & Grow
Terbit : 2015 (Cetakan I)
Blurb Novel Cahaya dari Koto Gadang
Apakah Raden Mas Tjokroaminoto akan tetap tersenyum pada saya seperti itu jika mengetahui yang sesungguhnya? Demikianlah kegundahan Haji Agus Salim saat ditugaskan sebagai mata-mata oleh Belanda. Ia merasa tidak nyaman dengan tugas yang diembannya.
Takdirlah yang mebuatnya bertemu dengan H.O.S. Tjokroaminoto, tokoh nomor satu di Sarekat Islam. Mereka berada di kutub pemikiran yang berbeda. Mereka di pihak yang berbeda. Namun, justru hal itu yang kemudian membuat keduanya menjalin persahabatan yang erat. Saling mengisi, bahu-membahu memperjuangkan masa depan bangsa Indonesia,
Haji Agus Salim. Dialah inlander pertama di Indonesia yang menjadi diplomat. Berkat keahliannya berdiplomasi dan penguasaan terhadap banyak bahasa asing, kedaulatan Indonesia pasca proklamasi berhasil memperoleh banyak dukungan dari dunia internasional.
Review Novel Cahaya dari Koto Gadang
Novel Cahaya dari Koto Gadang dibuka dari peristiwa meninggalnya Haji Agus Salim dari sudut pandang sang istri, Zainatun Nahar dengan kata ganti 'aku'. Namun, terjadi perubahan sudut pandang dalam 27 bab selanjutnya dari novel ini. Penulis memilih sudut pandang Haji Agus Salim, dengan kata ganti 'saya'. Bisa jadi untuk membedakannya dengan prolog (dan nantinya epilog) dari sudut pandang Zainatun Nahar, bisa jadi pula untuk memberikan kesan mulia dan bijaksananya sosok Haji Agus Salim.
Sepanjang 462 halaman, pembaca diajak menyelami kembali kehidupan sang diplomat ulung. Panjangnya novel, membuat kita bisa meraba, kira-kira sejauh mana riset yang dilakukan penulis. Meskipun demikian, ada bagian menarik, tentang pendapat Haji Agus Salim tentang komunis pada halaman 301, ketika tengah mengulas perpecahan Sarekat Islam menjadi SI Merah dan SI Putih.
Ia menyebut "... paham komunisme itu merupakan pemahaman yang sangat berbahaya, sebab komunis tidak mempercayai adanya Tuhan sebagai sesembahan." Hal ini dilanjutkan dengan "... komunis merupakan pemahaman yang sangat bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam, sehingga harus diperangi dan dimusnahkan".
Meskipun ucapan ini adalah buah pikiran Haji Agus Salim (*), tentu perlu ada catatan kaki dari penulis (atau editor) tentang arti komunisme, sebagai 'pemahaman alternatif' untuk pembaca. Merujuk yang paling umum, dalam KBBI komunisme adalah 'paham atau ideologi (dalam bidang politik) yang menganut ajaran Karl Marx dan Fredrich Engels, yang hendak menghapuskan hak milik perseorangan dan menggantikannya dengan hak milik bersama yang dikontrol oleh negara'. Mustahil komunisme dihadap-hadapkan dengan teisme (paham agama, kepercayaan pada teos atau Tuhan), karena definisi teisme tidak mencakup tentang 'hak milik perseorangan' dan 'hak milik bersama'.
Pada kenyataannya, terdapat komunisme agamis, yang dengan demikian, berbeda dengan penjelasan narasi Haji Agus Salim di atas. Berbeda lagi dengan ateisme yang bisa dihadapkan dengan teisme, karena ateisme menurut KBBI 'paham yang tidak mengakui adanya Tuhan'. Klarifikasi definisi komunisme, perbedaannya dengan ateisme, walaupun cuma sebatas catatan kaki, tentu akan lebih tepat daripada membiarkan pembaca meyakini, komunisme dan ateisme adalah dua hal yang sama persis (yang pada masa Orde Baru digunakan 'secara bersamaan' untuk menyebut segala yang berbau 'PKI', bahkan meski ada kecenderungan Sarekat Islam Merah diisi oleh komunis yang 'ateis', yang kerap bersinggungan dengan Sarekat Islam Putih yang 'agamis').
Di luar itu, membaca sebuah buku yang (sangat) tebal memang membutuhkan perjuangan. Sayangnya, saya tidak cukup sabar untuk merampungkan novel ini. Bisa jadi karena keterbatasan waktu, tetapi mungkin pula (sebuah pembenaran dari saya) karena banyaknya kalimat yang kurang efektif di novel ini.
Penggunaan kata ganti 'saya' yang semestinya bisa membawa pembaca larut (merasa membaca kisah sendiri), tidak berjalan sebagaimana mestinya (bagi saya). Sebagai contoh, pada halaman 4, di paragraf ketiga, terdapat empat kalimat panjang. Di sana, tercantum enam kata 'saya'. Hal ini diulangi di beberapa bagian lain di novel ini. Membaca paragraf seperti ini, bisa saja meletihkan, dan ujungnya bakal membuat pembaca cepat bosan.
Selain itu, penggunaan kata ganti 'saya' membuat saya berekspektasi munculnya percakapan antar tokoh. Namun untuk hal tersebut, saya mesti menunggu hingga halaman 23, ketika Agus Salim berbincang dengan sang ayah. Terlalu banyak narasi, yang pada akhirnya membuat saya bergumam, "oke, dari mana konflik sesungguhnya novel ini dimulai?"
Penggunaan frasa yang kurang efektif juga cukup banyak ditemui, seperti frasa semua aksi-aksi' (halaman 234), 'tugas pekerjaan' (halaman 295) 'sangat senang sekali' (halaman 301), 'sangat bagus sekali' (halaman 314), semua tindakan-tindakan' (halaman 328). Mungkin saja penulis (dan editor) ingin menekankan frasa tersebut sebagai ciri khas, tetapi --jika memang demikian-- ada konsekuensi, pembaca tertentu, mempertanyakan pemakaian frasa yang 'boros' seperti ini.
Typo, salah tulis, adalah hal lumrah, seperti kata 'mengkikis' (halaman 323) alih-alih mengikis. Meskipun demikian, agak janggal ketika di halaman 313, tertulis kalimat "Tak seharusnya kita berlama-lama berada dalam sistem politik yang kooperasi ...". Kooperasi, di KBBI adalah kata benda (noun). Mungkin saja kata yang lebih tepat adalah (bersifat) kooperatif, (ajektif) yang berarti bersifat kerja sama.
Penggunaan tanda tanya di berbagai kalimat langsung dalam novel ini juga menimbulkan pertanyaan. Bisa jadi, tanda tanya tersebut digunakan untuk menggantikan tanda seru, sehingga 'kadar ketegangan kalimat' akan turun. Namun rasanya janggal membaca kalimat "Tapi hal itu kita lakukan semata-mata untuk kepentingan rakyat, Tuan Salim?" dibandingkan dengan "Tapi .... Tuan Salim!"
Selain hal-hal teknis tentang penulisan, ada pula masalah di halaman 372. Di sana, tampaknya ada bagian awal paragraf yang hilang, karena halaman dibuka dengan (potongan) kalimat "baru dalam hidup ini".
Terlepas dari berbagai masalah ini, novel biografi Cahaya dari Koto Gadang memiliki isi yang runtut, yang mengisahkan perjalanan hidup Haji Agus Salim dari awal hingga akhir hayat. Novel yang perlu dibaca untuk sarana pembelajaran.
(*) sebagai perbandingan, lihat ucapan Haji Agus Salim tentang adiknya, Chalid Salim, yang masuk ke agama Katolik. Agus Salim ketika dimintai pendapat oleh seorang Belanda tentang hal ini, berkata "Dia dulu orang komunis, tidak percaya Tuhan, sekarang dia percaya Tuhan." (Historia.id)
Resensi Lain:
Muse karya Devania Annesya
Jilbab (Love) Story karya Redi Kuswanto
0 Response to "Resensi Novel Terbaru: Cahaya dari Koto Gadang (Novel Biografi Haji Agus Salim) Karya Haidar Musyafa"
Posting Komentar